Islam dan Tradisi Menulis


Sumber photo : www.pexels.com


              Geliat atau tradisi menulis di Jambi akhir-akhir ini bila diperhatikan mulai ada peningkatan walaupun tidak begitu signifikan tapi ini sebuah perubahan yang sangat menggembirakan. Jika hendak dilihat motivasi para penulis ini tentunya beragam ada yang ingin menjadi terkenal, agar mendapatkan royalti tulisan atau yang memang benar-benar ingin membagi wawasan dan pengetahuannya yang ia punya melalaui tulisan.
            Tradisi menulis ini sebenarnya terkait erat dengan turunnya perintah membaca (Iqra’) dalam surat al - ‘Alaq ayat 1-5 yakni mengajar manusia dengan pena (‘allama bil-qalam). Pena di sini dapat kita pahami sebagai alat untuk menulis. Sebelum menulis tentu membaca adalah hal pertama yang harus kita lakukan. Membaca bukan hanya buku-buku, media online tapi makna luasnya ialah membaca akan semua fenomena yang terjadi di dunia ini, mengkaji, mengambil hikmah lalu menuliskannya. Oleh karena itu, perintah membaca menjadi perintah pertama kepada manusia dan menjadi aktivitas awal dalam proses pendidikan.
            Rasulullah SAW sangat menyadari pentingnya kemampuan membaca dan menulis. ketika perang badar usai, ada 70 orang Quraisy Makkah menjadi tawanan, masing-masing mereka diminta untuk mengajar 10 orang anak-anak dan orang dewasa Madinah dalam membaca dan menulis sebagai syarat pembebasan mereka. Biaya untuk menebus tawanan kala itu berkisar antara 1000-4000 dirham per orang. Jumlah yang cukup besar jika untuk ukuran saat ini. Tapi Rasulullah mau mengganti tebusan tawanan dengan sebuah pembelajaran membaca dan menulis (Satria Dharma : Gerakan Menulis dalam al-Qur-an).
Perkembangan tradisi menulis pada umat Islam juga terlihat pada saat diputuskannya penggabungan penulisan al-Qur-an pada pada satu mushaf baku di zaman Khalifah Abu Bakar.  Salah satu alasanya karena banyaknya para penghafal al-Qur-an yang syahid dalam berbagai peperangan. Selain itu, para sahabat tidak lepas dari tradisi tulis menulis. Para sahabat mencatat beragam peristiwa yang terjadi di masa Rasululluh walaupun mereka memiliki kemampuan hapalan yang kuat tapi mereka tidak meninggalkan tradisi menulis. Padahal kala itu media untuk menulis tidaklah secanggih sekarang. Para sahabat menulis di media-media seperti batu, pelepah kurma, daun, tulang binatang dan sebagainya (Hendra Soegiantoro : Menulis, Tradisi Islam).
            Karya-karya luar biasa hasil dari tradisi membaca dan menulis pada saat itu bisa kita saksikan sendiri. Di antaranya dibukukannya Shahih Bukhori, Shahih Muslim, Tafsir Ibn Katsir dan masih banyak lagi yang lainnya. Sementara dari kalangan Ulama dan Intelektual Muslim, tradisi menulis telah menjadi nafas mereka. Ini dibuktikannya dengan banyaknya karya-karya mereka yang sampai hari ini tetap menjadi rujukan bagi kaum Muslim. Diantaranya Ibnu Taimiyah yang mencapai 500 judul, Imam Malik, Hassan Al Banna, Sayyid Qutb, Yusuf Qardhawy, Ibnu Sina dengan buku-buku kedokterannya, Ibnu Rusyid dan filsafatnya. Di Indonesia kita mengenal Buya Hamka, dari bidang sastra kita mengenal Habiburrahman El-Shirazy dengan karya fenomenalnya “Ayat-ayat Cinta”, Andre Hirata dengan “Laskar Pelangi” nya dan masih banyak lagi penulis-penulis lain dengan karya-karya yang telah mereka hasilkan.
Perlu dicermati penullis-penulis ini selain menjadikan menulis sebagai tradisi tentu mereka tak lepas dari budaya membaca yang menjadi awal dari segalanya. Pada masa kejayaan Islam budaya membaca dan menulis tak lepas dari rakyat dan memiliki peranan yang sangat penting. Perpustakaan di setiap negeri pada saat itu memiliki koleksi buku yang luar biasa jumlahnya. Misalnya Perpustakaan Khalifah Dinasti Fatimiyah di Kairo dengan koleksi tidak kurang dua juta buku yang berharga dan mushaf-mushaf, masjid-masjid pun memiliki perpustakaan, perpustaakan umum Tripoli di Syam yang pernah dibakar pasukan Salib Eropa-memiliki koleksi buku tak kurang dari tiga juta judul termasuk 50 ribu eksemplar al-Qur-an dan tafsirnya kemudian Andalusia dengan 20 perpustaakan umum. (www.muhammad-sabran.com). Buku saat itu dipandang sebagai salah satu bukti puncak kejayaan peradaban Islam. Oleh karena itu, jika kita menginginkan kejayaan peradaban Islam mencapai keemasannya marilah kita jadikan membaca dan menulis sebagai tradisi kembali.
Hal yang mudah kita lakukan adalah usahakan tiap bulan kita menyisihkan uang untuk membeli buku, penulis yakin tidak ada ruginya, membeli buku salah satu cara kita berinvestasi untuk masa depan, jadikan berkunjung ke perpustaakan dan toko buku agenda rutin tiap akhir pekan  atau akhir bulan atau bergabung dengan berbagai komunitas kepenulisan. Karena tradisi menulis tidak bisa terlepas dari tradisi membaca, untuk itu mulailah kita menggiatkan membaca. Dimulai dengan buku-buku yang ringan dan favorit terlebih dahulu. Bukankah sesuatu itu jika sering dikerjakan dalam prosesnya nanti menjadi sebuah kebiasaan. Tidak salah juga jika kalimat bijak ini menjadi motivasi kita menulis “ Ikatlah Ilmu lewat Tulisan”. Saat membaca siapkan buku kecil dan pena barangkali ada hal istimewa yang ditemukan pada saat membaca. Hal itu dapat kita jadikan sebagai awal kita mengkaji sesuatu selanjutnya mencari referensi lain dan akhirnya dapat kita kembangkan menjadi sebuah tulisan.  
Yakinkan dalam diri bahwa kita mampu dan buanglah rasa minder dan takut jika tulisan kita akan dicemooh orang. Menulislah dengan niat memberi pengetahuan, berbagi ilmu dan pengalaman. Jika hanya ingin dikenal itu tidak akan bertahan lama. Lihatlah Ulama-ulama besar tersebut namanya justru dikenal setelah ia tiada. Tulislah hal yang baik, jadikanlah Al qur’an sebagai rujukan utama, karena firman Allah Azza wa jalla ini ibarat telaga Al Kautsar yang tak pernah kering airnya. Semakin kita mengkaji Al qur’an semakin banyak hal yang tersembunyi. Allahu’alam

Penulis adalah Personality Blogger


Pernah terbit dalam kolom Harian Pagi Jambi Independent
Sumber gambar www.standartpen.id

Comments

Popular posts from this blog

Sungai Sawang : Kolam Renang Khusus Wanita di Kota Jambi

Inilah Cara Mengatasi Baper Negatif

Ternyata Inilah 10 Cara Move On Dari Someone