Catatan Workshop Parenting Nasional


Sunday, January 27, 2013
Amdulillah selesai sudah acara Workshop Nasional “ Mendidik Karakter dengan Karakter ” dan Lomba Essay “ Pengalaman Mendidik Anak ” dengan menghadirkan penulisnya langsung Ibu Ida S. Widayanti, S.T., S.S. ESQ training Jakarta dan Cecep Perdianto, S.E dari IBH Jambi, pada hari sabtu 26 Januari 2013, bertempat di aula Bappeda Kota Baru Jambi. Yaps ibu Ida adalah penulis dari buku yang berjudul Mendidik Karakter dengan Karakter. Bagi kami ini sebuah pengalaman luar biasa tentunya bagi pendiri Lembaga Pendidikan : Indonesia Berkilau (IBi), Aisyah, M.Pd, Tridai Sepitri, S.Pd.I. dan Testiani Makmur, S.Sos, MA. Berawal dari diskusi tanggal 5 Desember 2012 di sebuah studio radio tercetuslah ide untuk menyelenggarakan sebuah Workhsop tentang orangtua dan anak; parenting. Ide ini muncul dari banyaknya keluhan orangtua yang bingung mengatasi anak-anak zaman sekarang.
Peserta sangat antusias menyimak materi yang disampaikan para narasumber, terbukti di setiap sesi tanya jawab hampir setengah peserta mengangkat tangan ingin bertanya. Karena keterbatasan waktu tentu mereka tak semua mendapatkan kesempatan. Mendidik agar anak memiliki karakter baik itu dimulai dari usia emas atau Golden Age. Bahkan lebih dini lagi sejak memilih pasangan hidup. Dengan memiliki pasangan hidup yang Shaleh/Shalehah diharapkan ketika mendidik anak memiliki visi dan misi yang sama. Karena mendidik anak bukanlah tanggungjawab sang ibu saja tapi ayah pun andil dalam hal ini. Apalagi bila memiliki anak laki-laki sang ayah dituntut bisa menjadi role model/teladan yang baik bagi anak. Jika kita menginginkan anak tidak merokok tentu terlebih dahulu sang ayah jangan merokok. Dan jauh sebelumnya Rasulullah telah mencontohkan hal tersebut.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu)  bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Q.S : Al Ahzab (33) : 21)


Sumber Photo : www.pexels.com
Kita mesti menyadari “kesalahan”, kenapa anak tak memiliki karakter baik sebagaimana yang kita inginkan. Pendidik anak yang paling utama ialah orangtua, bukan guru ataupun lingkungannya. Sebagai pendidik utama sudahkah mendidik mereka dengan transfer karakter yang baik. Anak-anak memiliki naluri untuk meniru, tatkala sang ibu memakai lipstik tak jarang anak perempuan dan laki-laki kita mengikutinya. Bahkan mereka memakainya tanpa sepengetahuan kita, diam-diam mereka mencari lipstik yang terkadang membuat berantakan kotak make up. Sebagian dari orantua sangat marah ketika ini terjadi ditambah bila ada barang-barang yang hilang. Tapi apakah kemarahan itu akan disampaikan dengan cara berteriak-teriak. Akhirnya membuat anak takut dan tak kreatif guna kembali mencoba hal-hal baru. Cara terbaik tegurlah dengan memberi penjelasan kenapa tidak boleh tapi ketika menjelaskan hindari kata-kata “ Jangan, dilarang, tidak boleh” kata ini bukan membuat mereka berhenti tapi sebaliknya mereka penasaran akan mencari tahu kenapa dilarang, nanti kalau saya lakukan dampaknya apa ya.
Orangtua sekarang dituntut lebih cerdas dalam bersikap dan beriteraksi dengan anak, agar nantinya kalimat “anak sekarang beda ya dengan kita dulu, bandel-bandel”, tak terus menjadi pembenaran ketika melihat sikap tak berkarakternya anak-anak kita. Ali bin Abi Thalib berkata “Janganlah engkau memaksakan anak-anakmu sesuai pendidikanmu, karena sesungguhnya mereka diciptakan untuk zaman yang bukan zaman kalian. Cetaklah tanah selama ia masih basah dan tanamlah kayu selama ia masih lunak.”
Ini adalah sekelumit materi yang disampaikan pada workshop. Dan sebagian besar bisa kita baca di seri buku karangan beliau “Catatan Parenting 1, 2 dan 3”. Semoga memberi khasanah pengetahuan baru bagi para orangtua guna mendidik buah hati tercinta mereka. Teruslah belajar yang Bunda dan Ayah. Dan bagi pemenang Menulis Essay (Legiyani, Titi Inayati, Nyimas) "selamat" ya teruslah berkarya. Tak lupa terima kasih kepada peserta dan seluruh panitia yang telah membantu suksesnya acara ini. Mohon maaf yang sebesar-besarnya kurangnya pelayanan yang kami berikan. Kelak ke depan bisa lebih baik.
Buat 3 gadis melayu, tetap semangat berbagi ilmu dalam bentuk dan cara apapun. Kita Allah ciptakan istimewa dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing, mari kita tutupi kekurangan dengan kelebihan kita. Sebagai anak muda saatnya kita action, saatnya kita melakukan kesalahan agar segera diperbaiki, bukan hanya omong doang dan berkhayal. Kejarlah mimpimu dengan kesediaan melakukan hal-hal kecil. 
Wallahu a'lam

Note : Setelah kegiatan perdana tersebut, masih sering ditanyakan oleh peserta kapan mengadakan acara seminar parenting kembali.

Comments

Popular posts from this blog

Allah Mengabarkan di Hati Ummi akan Kepergianmu Nak

Sungai Sawang : Kolam Renang Khusus Wanita di Kota Jambi

5 Kiat Menjaga Organ Intim Wanita, yang Ke-5 Bisa Membuat Kamu Tercengang