Akhi Haruskah Diri Ini yang Melamarmu ?

Bismillah

"Mau Menikah dengan Siapa? Jika Cowoknya Tidak Gentleman Melamar"

Cantik mungkin kalimat itu sudah sering kita dengar. Menjadi pikiran saya juga karena belakangan banyak yang curhat soal 'Jodoh dan Soal Memilih Pasangan'.
Terkadang ada yg tetiba sms :
"Kak sebenarnya cowok yang mengejar cewek atau cewek yang ngejar cowok kak?".
Di kesempatan lain biasanya ba'da belajar private selalu mereka mengagendakan untuk curhat soal yang beginian :
" Gimanalah ya biar prosesnya cepat ga digantung lama seperti ini, ortu udah mendesak mengingat usia saya kak, tapi kalo kitanya yang tanya2 tentang nikah malulah kak".
'Walaupun usia saya tidak muda lagi dek, tapi saya berusaha agar tidak terkesan kita yang mengejar atau mendesaknya''.



Rasa yang mereka rasakan tak jauh beda, ingin segera menikah, 'mendesak' namun adanya rasa malu membuat mereka tak ada pilihan kecuali bersabar.
Saya hanya memberi penguatan, Yakin setiap yang terjadi dalam hidup kita itu adalah takdir yang terbaik bukankah daun kering saja gugur atas izin Allah, demikian pula dengan kehidupan kita. Belum menikah, sudah menikah, belum punya keturunan, sudah punya keturunan, punya menantu atau belum, punya cucu atau belum dan lain sebagainya, pasti ada ujiannya, bilapun tak ada ujiannya justru itulah ujiannya.
Lalu jangan terlalu fokus dengan satu 'ikhwan' itu saja barangkali di luar sana telah Allah siapkan yang lebih baik, Allah ingin kita menjemputnya dengan jalan yang lebih baik (ta'aruf, khitbah, akad). 


Sumber Photo : www.pexels.com

Sementara itu di pojok lain ada yang menyerukan, apa akhwat saja ya yang duluan melamar ikhwan tersebut. Yaps yang saya maksud melamar di sini adalah mengajak seseorang untuk menikah tapi jika proses yang sebenarnya melamar tetaplah yang melakukan adalah pihak laki-laki/ikhwan. Cantik dari literatur yang pernah saya baca ada sih cerita dimana akhwat yang mengajak ikhwan untuk menikah duluan. Alhamdulillah tawaran akhwat tersebut disambut dengan akad nikah oleh si ikhwan. Namun ada juga kisah di mana akhwatnya ditolak dan yang lebih menyedihkan ia menjadi bahan 'olokan' oleh temannya yang lain.

Dalam Islam boleh saja bila si akhwat berani untuk mengungkapkan keinginannya menikah dengan seorang ikhwan yang diyakini adalah yang terbaik dan bisa jadi imam bagi dirinya dan keluarganya kelak. Tapi tentunya mesti memperhatikan beberapa hal di antaranya usahakan proses tersebut terhindar dari fitnah, utuslah orang yang benar-benar kenal dengan si Doi, melalui orang ini si akhwat bisa lebih dulu mensurvey si ikhwan. Ini dilakukan untuk meminimalisir kemungkinan ditolak. Menyakan tipe calon istri yang diinginkannya, target menikah dan lain sebagainya.  Sesungguhnya ini yang dilakukan pembantu Khodijah istri Rasulullah, maysarah, saat beliau bercerita tentang Rasulullah maysarah menangkap ada rasa suka di hati Khodijah, lalu maysarah berinisiatif menyampaikan kabar tersebut kepada Rasulullah SAW. Nah Cantik berani tidak nih melakukan hal tersebut? Hiii...

Malunya wanita itu tanda kencantikannya. Jadi wajar yah bila saat ini banyak wanita sholehah yang begitu sabar menanti untuk ditemukan dan dipinang. Karena kesholehaannya itu membuat masa menunggu bukan sebuah perkara yang membuat dia galau berketerusan.

Terus nih Cantik, jika suatu masa setiap kebahagian itu satu persatu telah didapatkan jangan terlalu 'lebay' memamerkan karena ingat banyak orang yang belum mendapatkannya. Boleh saja diberitahu namun hanya sekedarnya saja karena Allah ingin melihat hambanya menunjukkan anugerah yang telah Dia berikan kepada hamba-Nya yang bersabar.

Allah telah menciptakan sesuatu itu secara berpasang-pasangan, dan Dia maha adil. 

Allahu a'lam

Comments

Popular posts from this blog

Sungai Sawang : Kolam Renang Khusus Wanita di Kota Jambi

Ternyata Inilah 10 Cara Move On Dari Someone